Freedom (Un)Limited
Sumber: https://www.kompasiana.com/daveena/5dbe89a8097f3630073aa692/memperjuangkan-hak-layangan-putus
Kita berhak hidup dalam kebebasan. Tetapi kebebasan itu harus dimanfaatkan dengan penuh taanggung jawab, agar mampu memberikan manfaat yang optimal bagi kita dan semua orang. Oleh karena itu, ada orang lain yang berhak mengontrol kebebasan kita agar tidak melanggar banyak peraturan. Bagi seorang anak, itu adalah orang tua mereka.
Ibaratnya seperti ini. Seseorang sedang menerbangkan sebuah layangan. Ketika berada di langit, layangan itu bebas terbang ke sana kemari mengikuti arah angin. Namun, antara layangan dengan tangan yang memegangnya terdapat sebuah tali yang berfungsi mengontrol si layangan agar tidak terbang terlalu jauh.
Tetapi ketika ada suatu badai besar yang dapat memutuskan tali layangan itu, hubungan antara layangan dan tangan yang memainkannya putus, dan layangan itu akan terbang tak tentu arah bersamaan dengan arah berhembusnya badai itu.
Sama halnya dengan orang tua kita. Orang tua ingin agar anaknya dapat merasakan kebebasan mengembara di dunia luar. Namun tetap dengan kendali agar anaknya itu tidak salah jalan. Tetapi ketika datang sebuah "badai" masalah hidup yang mungkin melibatkan sang anak, bisa saja anak itu terbawa badai itu dan memutuskan hubungannya dengan orang tua. Sang anak akan dibawa ke arah yang tak tentu.
Kita berhak bebas, tapi bukan seperti binatang di hutan. Kita bebas seperti layangan. Bebas, tetapi tetap terikat. Sehingga kita tidak salah arah. Semoga artikel ini menginspirasi kalian. Terimakasih.
Comments